Bitcoin kembali menembus US$80.000 saat PDB AS yang kuat memicu kekhawatiran soal suku bunga
Harga Bitcoin pulih ke atas $80.000 pada Kamis setelah sempat turun ke sekitar $79.800. Rebound ini terjadi saat para trader mempertimbangkan pertumbuhan AS yang lebih kuat dan inflasi yang terus bertahan, serta kemungkinan suku bunga tetap tinggi.
Ekonomi AS tumbuh pada laju tahunan 3,4% pada kuartal ketiga, melampaui perkiraan 3,2%. Inflasi PCE inti tahunan—ukuran inflasi dasar yang menjadi acuan utama Federal Reserve—mencapai 3,1% pada September, sementara inflasi PCE umum berada di 3,6%. Keduanya masih di atas target Fed sebesar 2%.
Pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang sulit turun dapat memberi alasan bagi Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat atau mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan Bitcoin karena membuat aset yang menghasilkan imbal hasil lebih menarik. Fed mempertahankan suku bunga acuannya di 3,75%–4,00%, dan dua pejabat dilaporkan mendukung kenaikan lagi.
Bagi trader, $80.000 merupakan level support penting dalam waktu dekat. Resistance berada di sekitar $81.400, disusul kisaran $82.000–$82.500; jika harga menembus dan bertahan di atas zona itu, level $84.202 dapat menjadi fokus. Jika Bitcoin turun, $78.000 dan $76.000 berpotensi menjadi level support. ETF Bitcoin spot mencatat arus masuk sebesar $423,66 juta selama tiga sesi, sementara data bursa menunjukkan penarikan BTC yang cukup besar. Indikator-indikator ini memberi sedikit dukungan, tetapi tidak menghilangkan risiko makroekonomi yang dihadapi harga Bitcoin.
Bearish
Berita ini berdampak bearish bagi Bitcoin dalam waktu dekat karena kombinasi pertumbuhan AS yang lebih kuat dari perkiraan dan inflasi di atas target Federal Reserve sebesar 2% dapat menunda pemangkasan suku bunga atau membuat kemungkinan pengetatan lebih lanjut tetap menjadi perhatian. Saat pasar memperkirakan suku bunga yang lebih tinggi, imbal hasil Treasury dan aset berbunga lainnya bisa menjadi lebih menarik dibandingkan Bitcoin yang tidak memberikan imbal hasil. Hal ini dapat menekan harga kripto dan meningkatkan volatilitas saat para trader menyesuaikan ekspektasi suku bunga.
Pergerakan harga dalam waktu dekat beragam: Bitcoin kembali naik ke atas $80.000 setelah sempat turun di bawahnya, menunjukkan bahwa pembeli mempertahankan level psikologis yang penting. Arus masuk ETF sebesar $423,66 juta selama tiga sesi dan laporan penarikan BTC dari bursa terpusat juga dapat mengindikasikan permintaan yang berlanjut atau kecenderungan untuk menyimpan aset di luar bursa. Namun, sinyal-sinyal ini tidak menjamin pembelian akan berlanjut, terutama jika data inflasi atau ketenagakerjaan mendatang memperkuat prospek Fed yang hawkish.
Secara historis, angka inflasi yang lebih tinggi dan sinyal hawkish dari bank sentral sering memicu pergerakan risk-off jangka pendek di pasar kripto dan aset lain yang sensitif terhadap pertumbuhan. Namun, reaksi tersebut dapat berbalik ketika trader menilai data itu sudah diperhitungkan oleh pasar atau ketika indikator terkait permintaan tetap kuat. Karena itu, level $80.000 penting bagi sentimen jangka pendek. Jika harga bertahan secara meyakinkan di level tersebut dan menembus resistance di $81.400 serta $82.000–$82.500, momentum dapat membaik. Jika gagal bertahan di $80.000, support di sekitar $78.000 dan $76.000 dapat menjadi sasaran berikutnya.
Dalam jangka panjang, arah Bitcoin tidak hanya bergantung pada Fed, tetapi juga pada likuiditas, permintaan ETF, dan selera risiko yang lebih luas. Inflasi yang persisten dan suku bunga tinggi menjadi hambatan, sementara arus dana institusional yang berlanjut dan pasokan yang lebih ketat di bursa dapat membantu membatasi penurunan. Secara keseluruhan, latar makro cenderung bearish, tetapi level harga dan data arus dana menunjukkan risiko pergerakan tajam ke kedua arah, bukan kepastian penurunan yang berkelanjutan.